Tampilkan postingan dengan label Rumah Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2009

Di Pinggir Paris (Parangtritis)

Oleh: Iswatul Khairah*

Dua puluh tahun seperti tak terasa. Aku berada di pinggir pantai Paris lagi, akhir musim kemarau yang sama. Langit sore yang sama. Kemilau riak-riak air yang sama. Hanya kali ini ada tempat duduk yang berjejer rapi di kejauhan pantai. Dua puluh tahun yang lalu, ketika kami berlarian di pinggir pantai tanganku dalam genggamannya yang hangat–sore yang berlangit jingga itu–tempat duduk itu belum ada di sana. Tapi yang lainnya nyaris tak berubah. Kuda untuk ditumpangi para pengunjung, cafe, tempat dulu kami makan sambil tertawa juga masih ada (bahkan kursi kayu dekat pintu masukpun masih seperti dulu), kapal-kapal masih saling laju membelah permukaan pantai, para penjual rujak juga masih berjualan dengan gerobaknya, dan di sana-sini segerombolan Turis dari belahan dunia, masih sibuk dengan kamera digitalnya masing-masing. Semua warna, kultur, dan keanekaragaman mewarnai sepangjang pinggir pantai itu. seperti miniatur sebuah dunia kecil.

Setiap langkah yang kujejaki sejak keluar dari Shapir Square lalu menyusuri Malioboro dan naik bis kota menuju Paris bagai memutar kembali waktu.

Setapak demi setapak, usiaku kian menyusut, rona muka kembali mewarnai raut wajahku, dan debar-debar yang telah lama kulupakan kembali menari di jantungku. Lalu aku kembali melihat dia yang menjadi awal debaran itu-rambut ikal, mata bulat, aroma tubuhnya, suaranya, sentuhannya, ciumannya...

“Maukah kamu menjadi pacarku?” waktu itu tiba-tiba ia bertanya ditengah-tengah kami berjalan di sepanjang pantai Paris. Ia pasti sedang bercanda. Aku menoleh dan melihat ia tersenyum. Umurku enam belas tahun waktu itu. Itu hari-hari terakhirku di Jogja. Besok lusa aku akan ke Bandung mengikuti Ayah yang pindah tugas. Tanpa berhenti melangkah dan tanpa berpikir, aku tertawa dan menjawab, “Ia!”.

Setelah itu kami menjadi sepasang kekasih paling bahagia di Paris, di Jogja, bahkan di sekuruh jagad raya sore itu.

Aku belum pernah bertemu dengan pemuda seperti dia sebelumnya. Umurnya delapan belas tahun, seorang pelajar. Dan penulis. “Aku menulis untuk memberi tahu orang lain tentang apa yang aku pikirkan dan tidak untuk aku nikmati sendiri”. Begitu yang dikatakannya ketika kami pertama kali berkenalan di rumah seorang teman- dua minggu sebelum kepergianku.

Ketika ia meminta nomor teleponku, aku bilang padanya bahwa aku akan pindah. Mungkin tak kembali. Tapi ia tak peduli. Malam itu juga, ia menelepon tepat ketika aku mulai mengepak barang-barangku ke dalam koper “Kamu punya waktu untuk bertemu denganku sebelum berangkat?” tanyanya di akhir percakapan. Aku tahu jatuh cinta padanya hanya akan membawa masalah, tapi aku menjawab, “Baiklah, aku akan menemuimu”.

Dan benar, aku jatuh cinta padanya. Aku tak tahu kapan. Mungkin ketika aku melihatnya sedang berdiri menungguku di depan rumah, atau ketika ia pertama kali menggenggam tanganku ketika kami menyeberang jalan sehabis pulang sekolah, atau ketika ia menunjukkan buku sketsa tulisannya yang penuh dengan coretan, atau ketika ia memainkan gitar untukku, atau ketika ia menciumku selepas dari Paris “Aku mencintaimu”. Ucapnya. Tapi tanpa katapun, ia sudah tahu jawabanku.

Tuhan, aku ingin berteriak, mengapa baru sekarang aku dipertemukan dengannya? Sedangkan kami satu sekolah selama tiga tahun, tapi tak pernah kutemui ia. Tuhan tak menjawab, Ia hanya mengirimkan langit sore paling indah yang pernah aku lihat di sepanjang hidup pada hari terakhirku bersamanya. Langit jingga seperti dalam dongeng Barbie, kesukaanku. Ketika temaram mulai turun menyelimuti kota, kami berhenti di Cafe untuk duduk dan minum.
Di ufuk barat, langit merah muda itu pelan-pelan memudar sampai akhirnya yang tersisa hanyalah sapuan kelabu di langit.

“Kamu betul-betul akan pergi besok?” tanyanya sekali lagi.
Aku mengangguk. Tapi aku tahu sebagian hatiku ikut mati bersama selesainya hari itu.

***
Ia sudah menungguku di depan Cafe di Paris.


Aku tak percaya ternyata aku bisa langsung mengenalinya lagi dengan mudah. Setelah sekian tahun lewat dan disemua jubelan manusia, ia tetap menjadi satu-satunya titik fokus penglihatanku. Dan ia nyaris tak berubah setelah dua puluh tahun. Hanya lebih sedikit ada guratan kedewasaan di wajahnya. Rambutnya dipotong lebih pendek.

“Hai” ia tersenyum ketika melihatku berjalan ke arahnya. Ia masih setampan dulu. Wanginyapun masih sama. Masa lalu dan masa kini seolah tumpang tindih dalam kuwantum waktu yang berantakan. Air mataku mengalir tanpa bisa ditahan. Dan seperti dulu, ia masih tetap diam ketika melihatku menangis.

“Sudah lama sekali sejak terakhir aku melihatmu” aku ingin tertawa dan menangis sekaligus.”Apa kabar?”

“Baik”, katanya. Dua puluh tahun seolah terangkum kembali dalam satu kata yang singkat itu.”Bagaimana kalau kita bicara di dalam sambil minum jus alpukat kesukaanmu?” Ia berjalan mendahuluiku untuk membukakan pintu. Aku ingat dulu ia tak suka minum jus.

***
Dua puluh tahun lalu ketika kami berpisah di Terminal Jogja, ia berjanji akan datang ke Bandung. Menemuiku.

“Kapan?”

“Segera”

Aku menuliskan alamatku di Bandung di atas selembar tissue yang sempat kuambil di toilet tapi tidak terlalu berharap. Ia mengantarku sampai ke gerbang chek in dan aku menangis karena mengira tak akan pernah melihatnya lagi. Nyatanya ia benar-benar datang ke Bandung pada liburan sekolah. Kami menghabiskan waktu dengan nonton. Ia tidak begitu suka Bandung.

“Mengapa kamu tidak ikut kembali ke Jogja saja denganku?” tanyanya seperti biasa tanpa mempedulikan keadaanku.

Tapi aku memikirkan Ayah dan Ibu. Mereka tidak terlalu suka padanya. Karena ia berbeda agama. Mama bahkan tidak mengizinkan aku membawanya ke acara ulang tahun Chika, ponaanku. “ Kamu jadi bahan pergunjingan di keluarga besar kita?” tanya Ibu hati-hati. Sebetulnya aku tidak keberatan. Tapi Ibu jelas tidak suka. Akhirnya aku mengalah dan meninggalkannya di Bandung sendirian.

“Mereka tidak menyukaiku karena agama kita berbeda kan?” Tanyanya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. “Mungkin orang tuamu juga tidak akan suka kalau mereka tahu kamu berkencan denganku”.

“Ibuku boleh bicara apa saja tentang kamu tapi pada akhirnya ia harus menghormati pilihanku”.

“Itu kamu, itu di sana. Di sini lain. Aku tak mungkin membantah mereka seperti itu”.

Ia merengut, “Kamu berubah, tidak seperti yang ku kenal dulu. Apa yang bisa aku lakukan selama kamu tidak ada?”

Tapi pada akhirnya ia datang ke Bandung. “Aku kira kau tidak suka kota ini”, kataku ketika menjemputnya di Station. “Memang. Tapi aku suka kamu”, ia menjawab persis seperti yang ku inginkan.

***
Kami duduk di tempat yang sama dan aku memesan minuman yang sama di Cafe itu seperti terakhir aku di Jogja dua puluh tahun yang lalu. Jus alpukat memang paling enak. Tapi ia benar-benar minum jus sekarang.

“Aku kaget sekali waktu kamu tiba-tiba menelpon kemarin dan mengajakku menemuimu di sini”. Katanya. “Aku pikir kamu tidak akan pernah kembali ke Jogja lagi”.

“Aku menemani suamiku. Ia sedang menjadi pembicara konferensi pergerakan mahasiswa di salah satu Universitas di Jogja”.

“Jadi kamu menikah. Sudah berapa lama?”

“Tiga tahun”

“Punya anak berapa?”

“Satu. Perempuan”.

“Di mana dia sekarang?”

“Aku tinggal. Ia sedang tidur saat aku pergi tadi”

“Aku ingin melihatnya. Apakah ia mirip denganmu?”

“Kata orang ia lebih mirip Ayahnya dari pada denganku. Entahlah aku tak begitu paham tentang hal itu”. Kataku sambil tersenyum.

Ia ikut tersenyum, “Aku bahagia semua berjalan lancar dalam hidupmu”

By the way, bagaimana denganmu, masih tetap nulis?”
ia menggeleng. “Aku berhenti. Kurasa aku telah kehilangan inspirasi untuk menulis. Mungkin ini ada hubungannya denganmu. Atau mungkin karna aku takut...”

“Takut?”

“Ya, karena banyak sekali penulis besar ternyata menderita gangguan mental. Sylvia Plath contohnya. Ini sebuah fenomena universal lintas budaya bahwa penulis di manapun kebanyakan tidak bahagia”

“Tidak semua penulis mengalami hal itu”.

“Memang tidak. Biasanya mereka yang benar-benar jenius. Aku tidak tahu apakah para penulis itu gila karena mereka terlalu banyak menulis atau sebaliknya. Justru mereka menulis sebuah karya yang luar biasa karena mereka gila.”

Aku tertawa, “Dua-duanya sama sekali bukan pilihan yang bagus. Apakah karena itu kamu memilih berhenti menulis?”

“Aku hanya ingin lebih bahagia.” Ia tersenyum. “Ya, kita sama-sama sudah banyak berubah”. Dia benar tapi aku benci mengakuinya.

“Kota ini juga berubah,” kataku, ”dua puluh tahun yang lalu, tempat duduk itu tidak ada di sini”.

“Itu hanya sebuah bentuk kepedulian masyarakat sekitar pada pengunjung, selebihnya untuk memperindah Paris”.

“Apakah kamu selalu ke sini?”

Ia tertawa, “Aku? Tentu saja tidak. Itu sangat kekanak-kanakan. Hanya turis dan pelancong yang menikmati panorama Paris.”

“Aku ingin sekali lagi menikmatinya,” kataku pelan.

“Apa?”

“Sekarang, anggap saja aku turis.”

Ia tertawa, “Baiklah, kalau kamu mau, tentu saja aku akan menemanimu.”

Kami meninggalkan Cafe. Ia menggenggam tanganku, membawaku bergabung dengan turis.

Jantungku hampir berhenti berdetak dan lututku gemetar. Jadi seperti inilah rasanya genggaman tangannya. Seperti inilah berjalan menyusuri pantai Paris dua puluh tahun yang lalu. Seperti inilah rasanya cinta yang pernah kumiliki. Aku sudah lupa bahwa cinta itu ternyata begitu indah.

***
Dulu, waktu aku masih terlalu naif, aku berpikir cinta bisa mengatasi segalanya. Tapi ternyata aku salah. Cinta saja tidak cukup. Selain jarak yang memisahkan aku dan dia, ada jarak yang terlalu sulit untuk di seberangi. Bahkan oleh sayap-sayap cinta.

“Bagaimana ia bisa masuk ke dalam keluarga kita? Ia benar-benar berbeda.”

“Kalau kamu pindah, siapa yang akan mengurus Ayah dan Ibumu?”

“Apa kamu juga akan berpindah agama?”

“Kami bukan melarang atau sok pintar. Tapi karena kami sayang kamu.”

Dan aku benci mengakui bahwa mereka benar. Semuanya benar.

“Ini tidak akan berhasil.” Kataku beberapa bulan setelah kedatangannya ke Bandung.

“Kalau begitu, sebaiknya kita putus,” jawabnya. “Tapi tolong ingat, aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu.”

Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan luka di hatiku sebelum akhirnya aku siap membuka cinta yang lain, walau tidak pernah sama dengan yang pernah terjejak di Paris.

***
“Aku harus pulang.” Kataku sambil melihat jam tangan. “ Sebentar lagi suamiku akan pulang dari konferensi. Aku tak mau ia khawatir.”

“Aku akan menemanimu menunggu bis. Sampai kapan kamu di Jogja?”

“Besok aku akan kembali ke Bandung”

Ia tersenyum, “Sepertinya kita memang di takdirkan untuk selalu bertemu pada saat-saat terakhir.”

“Sebenarnya aku sudah di Jogja sejak lima hari yang lalu. Aku ingin menghubungimu tapi aku baru mempunyai keberanian melakukannya kemarin. Aku takut walau aku sendiri tidak tahu apa yang aku takutkan.”

Aku berbohong!

“Tidak apa-apa,” katanya. “Sebetulnya aku juga sedikit tegang waktu aku menemuimu tadi. Hampir saja aku memutuskan tidak datang.”

“Sampai begitu?” Aku tertawa. “Aku tidak seperti hantu kan?” Ia ikut tersenyum.

“Aku akan naik bis dari sana,” ia berhenti dan memandangku.

“Jaga dirimu baik-baik. Salam buat suami dan anakmu.”

“Pasti. Bagaimana dengan dirimu? Sebetulnya aku mau menanyakannya sejak tadi. Apakah kamu juga sudah menikah sekarang?”
ia menggeleng.

“Tidak?”

“Tidak. Karena kamulah satu-satunya perempuan yang pernah aku cinta. Aku tidak pernah mencintai orang lain selain kamu.”

Aku terpana.ada sakit yang tiba-tiba menyayat dari hati. Sakit sekali. Seperti tikaman. “Maukah kamu menjadi pacarku?” tanyanya waktu itu. “ Ya!” aku menjawab sambil tertawa. Lalu kami berlari-lari seperti kebanyakan anak muda yang sedang jatuh cinta dan aku tahu aku tidak akan pernah mencintai orang lain seperti aku mencintainya.

Andaikan...

Andaikan kami pernah memberi kesempatan pada cinta itu.

Aku nyaris tidak mendengar ucapan selamat tinggalnya ketika ia memelukku erat-erat sebelum berjalan menjauh dari bis. Aku ingin berlari mengejarnya tapi aku sudah terlambat dua puluh tahun dan kakiku tak kuasa bergerak.

Di barat, langit jingga perlahan mulai memudar.

(Alumni Annuqayah 2007)

Senin, 22 Desember 2008

Tawa Perempuan

(Sumber: Suara Pembaruan, 03 Nopember 2007)

Ruangan itu masih tampak lusuh. Sobekan kertas tak bertuan berserakan di pinggiran tong sampah, tak sempat menggapai lubangnya. Ada aroma sejuk dari hembusan napas dedah dedaunan di luar jendela, begitu membentur kulit tembok tak berkelambu. Lalu mendenting dan lama kelamaan bersendawa melabrak putaran jarum jam yang begitu lamban berdetak. Seseorang berjalan lamban menuju salah satu sisi gelap, mencari celah buat sekadar menghirup udara. Seberkas cahaya rembulan melindap ke dipan yang di atasnya berjejer alat rias kecantikan. Menyiratkan bahwa penghuninya adalah perempuan. Sesekali tatapan matanya menghadap ke langit-langit rumah, berputar ke sekeliling bertautan mata kiri dan mata kanan. Kali ini menepi ke gagang pintu diiringi kedipan alis matanya, tegang seakan mencoba membuka pintu yang memang sudah nyata tertutup rapat. Mata itu mulai lelah dan kembali merebah ke pelukan kelopaknya. Lampu neon di kamar itu meredup, pinggirannya menghitam menyulitkan kornea mata memandang isi kamar ukuran mini. Perempuan itu seorang diri, berteman lamunan sepanjang malam menjelang.

Kota di mana perempuan itu tinggal, memang sudah tampak sepi. Lalu lalang kendaraan kembali berjarak sekitar lima belas ketukan. Layaknya kota mati, hingga suara ombak di lautan terdengar desirannya sayup-sayup ke telinga. Malam kembali mendiskusikan maut dan menawarkan teh hangat bagi para pecandu. Bayang menjadi sekat-sekat yang melebur ke genangan air di aspal sepanjang bumi yang basah. Di sela-sela genangan itu ada sisa gelembung yang menjelma tawa perempuan malam. Setiap musim penghujan, gelembung akan meletup-letup histeris menyita perhatian orang-orang di sekitar. Termasuk para penjual kacang rebus yang sempat berjam-jam terbata.

"Ini salah satu pertanda keberkahan nasib kota ini", seru Pak Mustamin penjual kacang rebus pada beberapa abang becak yang mulai magang di area sederhana itu.

Semenjak dua tahun terakhir kota itu seperti terkena guna-guna. Kota yang dulunya makmur dan ramah pada orang-orang yang hendak melepas lelah, saat ini situasinya amat menyayat hati penduduk. Tak ada lagi keramahan, bencana datang beruntun, kelaparan merajalela, hingga menjadikan kota ini tidak lagi bertaring. Kenangan keceriaan bocah kecil yang bermain petak umpet, belajar mengaji, suara tawa tukang ojek menunggu penumpang pun tak lagi terbahasakan bahkan oleh sebait syair pujangga.

"Barangkali putri dewa hujan dibuang ke bumi karena telah melanggar titah," Somad menimpali. Ia adalah tukang becak termuda di lingkungannya. Somad putus sekolah setelah uang simpanan hasil mengayuh becak terkuras habis untuk prosesi pemakaman ayahnya, mati dibunuh ibunya sendiri. Sedangkan yang lain mendengarkan penjelasan Somad dengan saksama. Mereka akhirnya sepakat akan mengadakan upacara penghormatan tiap malam Jumat, mengelilingi genangan air bersuara tawa perempuan. Mereka pun berlalu satu-persatu menanggalkan gelap.

*

Perempuan itu masih di kamar, rambut terurai panjang. Ini adalah malam ketiga baginya mendekam diri. Pesona ayu masih jelas menggetarkan naluri seseorang yang memandang. Seorang lelaki, memandang matanya adalah bunuh diri yang berpahala. Tangannya yang lembut memegang lembaran kertas putih serupa folio, tapi lebih tebal dan lebih putih. Di kamar itu ada banyak koleksi buku berbagai judul, tapi yang berserakan di meja perempuan itu adalah tema-tema cinta tak kesampaian. Satu judul dengan judul-judul yang lain seakan menutup perasaannya sebagai manusia yang tidak lagi dalam koridor kekasih waktu. Pelukan tangannya pada pena, akan menggores cipratan sebuah noktah kelam kisah yang mulai menghilang ke antah berantah. Tapi sampai tiga malam berlalu tak ada satu pun coretan yang dijamahnya. Bukan karena lelah, tapi karena perempuan itu menunggu dedaunan, angin, air, gerimis, api, dan tanah menjelajah ke matanya menuju ke satu titik. Yakni kubangan kecil berisikan air tepat di depan rumahnya. Lalu bumi mengundang langit bersenggama hingga kubangan itu mencipta teriakan yang menyayat hati para penduduk.

Dalam kesendirian, perempuan itu teringat masa-masa saat bersama lelaki pujaan. Lelaki gagah dengan langkahnya begitu rapi selaras dengan wajah tampan selaksa tempias purnama. Setiap hari perempuan duduk di depan teras, lurus arah pagar agar gampang terlihat orang. Lelaki gagah pasti lewat di depan rumahnya. Khayalan perempuan terus mengalir terbawa kata-kata batin. Dan sampailah saat ia pada saat menegur lelaki dengan salam dan lambaian tangan penuh telisik. Hal itu berulang kali ia lakukan bahkan berbulan-bulan, namun tidak ada respon sama sekali dari lelaki gagah. Hanya tawa sinis dan kata-kata sesumbar keluar dari mulut tipisnya tepat ketika ia berjalan sampai di kubangan. Lelaki pun membelok ke kanan menuju bangunan dengan kubah biru dan menghilang bagai ditelan tempias lampu kota.

Orang-orang di sekitar rumahnya tahu bahwa lelaki itu adalah orang yang paling baik dan sabar di kotanya. Selalu mengumbar senyum dan membantu setiap orang yang tertimpa kesulitan, namun tidak padanya. Pada perempuan yang mendekam di kamar di siang hari, dan malamnya melukis liuk tubuhnya dengan kesunyian dan kegelapan. Pekerjaan lelaki gagah itu setiap hari adalah bolak-balik menuju bangunan berkubah biru sambil membawa selendang dan peci. Sebelum fajar, lelaki itu memanggil orang-orang untuk bangun. Setiap rumah penduduk diketuk satu-persatu dan menyuruh mereka untuk segera bergegas menuju bangunan berkubah biru. Lelaki gagah sering bilang, "bangunlah kalian agar kedamaian dan keberkahan senantiasa mengalir di kota ini".

Beberapa waktu pun berlalu, kota mulai damai dan kehidupan sejahtera. Penduduk tidak lagi membutuhkan lelaki gagah. Sambil diarak dan dicaci-maki lelaki gagah diusir dari kota itu karena suaranya dianggap mengganggu orang tua, anak kecil, dan semua penduduk yang masih tepekur di waktu fajar. Hanya perempuan di teras itu yang peduli pada kepergian lelaki gagah. Kepergian lelaki gagah membuat hati perempuan di teras murung beberapa waktu lamanya. Baginya, tanpa melihat lelaki gagah hidupnya tidak lagi berarti walau tegurannya tiap pagi tidak pernah dihiraukan. Suara burung berkicauan menambah galau hatinya kala itu. Kota pun gersang dan gedung tidak lagi memutih, dan bencana datang tiada henti bersamaan dengan kepergian lelaki gagah.

*

Sesajen dan dupa sudah dipersiapkan semenjak senja tidak lagi berarak. Tetamu yang kemungkinan menghadiri ritual itu tidaklah orang sembarangan, tapi hasil peranakan gua dan pedukuhan bahkan perdukunan. Termasuk Pak Mustamin dan Somad menyibukkan diri dengan keranda cokelat dipenuhi lilitan janur kuning dan di dalamnya kembang tujuh rupa. Perempuan di kamar memandangnya dengan tersipu malu. Ternyata semakin hari penduduk kota ini munafik pada ari-arinya, yang lebih punya perasaan dan mengerti langkahnya untuk beranjak.
Pak Romli yang dituakan mulai menyalakan dupa. Wajahnya komat-kamit membaca mantra.

"Ambil tongkat ini dan tancapkan di tengah-tengah kubangan", ucapnya pada orang-orang di sampingnya. Semua orang berebut hendak meraih tongkat berkepala ular berbahan cendana. Semua mata menatap lekat ke kubangan, laki-laki dan perempuan berjejer membentuk lingkaran. Orang pertama yang bisa menancapkan tongkat tepat di rusuk kubangan aspal akan mendapat keberkahan bagi keluarganya dan untuk kota yang telah mati.

Malam semakin larut, tapi suara teriakan histeris tak kunjung muncul. Desiran angin hanya lewat melewati celah-celah sempit lorong dari arah utara. Angin selatan masih tersandera. Suara kodok di persawahan menambah riuh perasaan penduduk menanti bunyi yang dinanti-nanti. Sejurus kemudian, angin berhenti melambai dedaunan. Samar-samar kubangan mulai meletup-letup dan suara histeris melengking ke udara. Gerombolan tangan mulai berebut menjamah satu-satunya tongkat di area itu. Semakin lama tongkat kian menjauh dan suara lengkingan semakin menjadi-jadi. Dan, crass...!, satu tubuh lunglai ke tanah bersimbah darah. Kemudian disusul teriakan tubuh itu dengan kesakitan yang mendalam. Suasana kian riuh-ricuh. Sesosok tubuh kembali terhempas ke aspal dengan darah mengucur dari batok kepalanya. Kali ini teriakannya lebih keras. Akhirnya tongkat itu merenggut nyawa orang-orang di sekitar kubangan. Rembulan melihat kejadian itu dengan tetesan air mata yang kemudian menjelma gerimis kemerahan.

Perlahan, perempuan keluar dari kamar mendatangi sekumpulan tubuh yang tidak lagi bernyawa. Di tangannya ada lembaran kertas putih dan beberapa botol kosong bekas minuman. Darah yang bersimbah di aspal di masukkan ke dalam botol dan disiramkan ke tongkat berkepala ular berbahan cendana. Kemudian dengan linangan air mata perempuan itu menancapkan tongkat ke tengah-tengah kubangan. Tawa perempuan tidak lagi terdengar dan di kubangan itu muncul wajah lelaki gagah. Bibirnya seakan berteriak dan mensabdakan; "ambillah kain penutup tubuh telanjangmu dan aku tunggu engkau di bangunan berkubah biru". ***

(Nuzul Alif, Alumni Annuqayah 2006)